Senin, 11 Agustus 2008

Smart Teacher Teknik Adopsi CCNA ke Kurikulum

Smart Teacher Teknik Adopsi CCNA ke Kurikulum
Filed under: TI — tonihidayat @ 5:21 am
Smart Teacher, Artikel ini saya tulis untuk menjawab beberapa pertanyaan yang datang dari guru, dosen, dan kepala jurusan di SMK dan Universitas tentang bagaimana cara mengadopsi kurikulum CCNA (Cisco Certified Network Associate) ke dalam kurikulum pendidikan kita.

Pertanyaan ini muncul seiring dengan keinginan banyak lembaga pendidikan yang membuka jurusan teknologi informasi atau jaringan (SMK, Akademi, Universitas), dan ingin memberi nilai lebih kepada (maha)siswanya supaya lulus dengan memiliki sertifikasi internasional.

Sedikit berbeda dengan sertifikasi-sertifikasi vendor lain (Microsoft, Novell, dsb), materi sertifikasi Cisco tidak hanya terfokus ke pembahasan produk yang dimilikinya (Internetwork Operating System (IOS) atau hardware). Tetapi juga memberi landasan konsep dan teori yang matang untuk Networking, Internetworking, Internet Protocol, TCP/IP, dsb.

Hal ini yang membuat menarik dunia akademisi karena materi-materi itu sebenarnya juga diajarkan (telah eksis) dalam kurikulum jaringan komputer. Jadi bagaimana supaya bisa digabungkan, atau ditambahkan, atau diadopsi?

Yang menarik, Cisco Systems memiliki program jalur akademik, yang terwadahi dalam Cisco Networking Academy Program (CNAP). Kurikulum disusun per-semester (bukan model course seperti lembaga pelatihan), dan sudah tersedia modul interaktif, online assesment, serta manajemen akademi secara online (elearning system). Materi yang tersedia misalnya untuk mempersiapkan ujian sertifikasi CCNA, CCNP, IT Essensial, dsb.

Hirarki akademi menurut standard Cisco Systems terbagi menjadi tiga: CATC (Cisco Academy Training Center), RA (Regional Academy) dan LA (Local Academy). CATC memiliki previledge untuk membuat dan mengelola beberapa RA beserta pelatihan untuk instrukturnya, demikian juga RA yang mengelola beberapa LA termasuk pelatihan untuk instruktur LA. Sedangkan LA mempunyai previledge untuk membuka kelas bagi student.

Seluruh manajemen dilakukan secara online dalam sistem elearning yang bernama Academy Connection (http://cisco.netacad.net), yang memungkinkan pengelola akademi atau LMC (Legal Main Contact), instruktur, student dan alumni berkolaborasi dalam kegiatan belajar mengajar. Sekali lagi, kurikulum, modul, kuis, ujian online, dan bahkan sertifikat kelulusan (bagi yang lulus) sudah tersedia secara digital.

Lembaga pendidikan kita (SMK, Akademi, Universitas, dsb) cukup mendaftarkan diri sebagai LA ke RA yang ada. Di Indonesia saat kurang lebih 8 RA ada di berbagai pelosok tanah air, diantaranya adalah UI, ITB, Binus, LIPI, dsb. Pendaftaran biasanya disertai dengan penandatanganan agreement, membayar management fee (sekitar Rp. 3-4 juta/tahun) dan mengirimkan instruktur untuk mengikuti pelatihan instruktur di RA dimana LA kita bergabung.

Untuk pendaftaran LA ke RA LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia), bisa melalui URL http://www.pdii.lipi.go.id/ccna/index.php. Mohon maaf saya tidak hapal untuk RA lain, silakan googling untuk mendapatkan infonya .

Kemudian kita lanjut ke adopsi kurikulumnya. Ada dua pendekatan dalam masalah memasukkan kurikulum yang sudah jadi ke pendidikan kita. Yang pertama adalah Sistem Adapt (Adaptasi), yaitu kita mengadaptasikan kurikulum tersebut sesuai dengan kebutuhan atau kurikulum yang kita miliki. Ada kemungkinan sifatnya hanya menambahkan ke kurikulum yang sudah ada, atau kita pakai kurikulumnya tapi tidak 100% kita ambil.

Bagaimana implementasinya? Sekolah/universitas mengambil sebagian materi CNAP untuk kurikulumnya, kemudian mengarahkan siswa/mahasiswa untuk mengambil ekstra kurikuler apabila ingin menyelesaikan seluruh kurikulum CNAP yang ada. Bisa juga dengan menarik biaya tambahan untuk yang tertarik mengikuti sampai tuntas seluruh materi yang disediakan.

Metode kedua yang lebih cepat dan gampang adalah Sistem Adopt (Adopsi). Kita menggunakan 100% kurikulum tersebut apa adanya, termasuk beserta perangkat-perangkat yang tersedia. Implementasinya adalah dengan mengalokasikan semester untuk kurikulum CNAP. Misalnya CCNA terbagi menjadi CCNA 1 (CCNA semester 1), CCNA 2, CCNA 3 dan CCNA 4.

Kamis, 19 Juni 2008

Mobil Masa Depan, Hasil Perkawinan dengan Komputer

Sumber : http://www.warta.unair.ac.id/artikel/index.php?id=49

Jangan Lewatkan Ini


Jakarta ? Mobil masa depan mau tak mau harus terkomputerisasi. Dengan proses ini maka sebuah mobil bisa memiliki lebih dari 20 unit terpisah agar bisa dijalankan. Bahkan sama rumitnya dengan pesawat Apolo 11. Membingungkan?Dengan mengendarai mobil modern, kita bisa terbang ke bulan. Demikian pengandaiannya untuk bisa menggambarkan kecanggihan mobil masa depan. Apabila program komputer yang canggih dipadukan dengan kendaraan, maka hasilnya adalah sebuah mobil masa depan serba andal.Namun penggambaran yang menyatakan kita bisa ke bulan dengan mobil modern bukanlah mengada-ada. Sebuah mobil modern didukung oleh seperangkat komputer yang nyaris sama dengan pesawat luar angkasa Apollo 11. Rata-rata mobil masa depan akan mempunyai lebih dari 20 unit prosesing terpisah yang masing-masing terkoneksi dengan komputer. Makin lama sebuah mobil masa depan diukur dari kemampuannya mengemas sedemikian banyak piranti terkomputerisasi ke dalam kemasan kecil yang bisa menghemat ruang.Saat ini, setiap produsen mobil terkemuka berlomba menciptakan mobil masa depan. Sebuah mobil bukan hanya alat transportasi super-cepat dan nyaman belaka, melainkan didukung sejumlah perangkat hiburan seperti video player bahkan pula car theater. Para produsen mobil ini menempatkan sejumlah konsol hiburan, sistem navigasi dan teknologi nirkabel sebagai standar produksi mereka. Menurut US Telematics Research Group (TRG), sebanyaj 75 persen dari 38 produsen mobil terkemuka dunia sudah menjadikan komputeriasi sebagai bagian dari produksinya.?Seperangkat piranti hiburan termasuk DVD player, konsol games dan sistem musik menjadi standar yang kian tinggi di sejumlah kendaraan di Amerika Serikat (AS), jelas Phil Magney, pimpinan analis di TRG kepada BBC News Online baru-baru ini. Memang konsumen harus merogoh kocek lebih untuk kelebihan ekstra ini, namun agaknya itu bukan masalah.NirkabelSalah satu contoh penggabungan mobil dengan sistem komputer adalah yang dilakukan Fiat. Bekerja sama dengam Microsoft, produsen mobil asal Italia ini mengawinkan kendaraan dengan Teknologi Informasi (TI). Mobil produksi mereka memungkinkan pengendara terkoneksi dengan internet didukung teknologi Bluetooth. Si pengendara juga bisa menikmati musik yang tersimpan dalam player di dashboard via koneksi USB. Semuanya bisa dioperasikan dengan perintah suara. Jadi pengendara cukup menyebutkan apa yang ia mau, maka fasilitas tersedia. Teknologi ini didukung piranti lunak Windows Automotive dan berbasis hardware standar. Produsen komponen Fiat, Magneti Marelli, akan membuat piranti keras yang akan dipasang sistem tersebut, dengan menggunakan desain acuan yang dikembangkan oleh Microsoft dan Fiat.Perpaduan mobil dengan komputer lain adalah yang dilakukan Jirka Jirout, seorang technical manager dari European Newspaper Conglomerate. Dalam mobil yang dinamakan Apple G4 ini terintegrasi sebuah komputer G4 450 MHz. Komputer ini diletakkan di dalam kap depan. Monitor diletakkan di bagian dashboard-nya. Di dalam monitor terdapat tombol-tombol program yang telah disetel Jirka. Jadi ketika ditekan, MP3 yang tersedia bisa langsung mengalun. Ketika berhenti karena lampu merah, Jirka bisa mengambil wireless keyboard untuk memeriksa e-mail-nya. Belum lagi koneksi BlueTooth yang memungkinkan Jirka melihat phonebook ponselnya via monitor TV. Terakhir, di bagian tengah mobil ini ada sebuah colokan untuk menghubungkan komputer jinjing yang lain. Sistem PembakaranSeiring dengan perkembangan teknologi, produsen mobil tidak hanya mengejar kelengkapan piranti hiburan di mobil semata. Mereka juga butuh dukungan program komputer canggih untuk berbagai fasilitas yang ada. Martin Illsley, direktur laboratorium riset Accenture berpendapat bahwa dengan memanfaatkan piranti lunak komputer maka produsen bisa menghemat banyak. Selain itu operasional sebuah kendaraan bisa berjalan lebih mudah walau kedengarannya rumit. Sistem pembakaran yang dibantu dengan program komputer mampu berjalan lebih sempurna dibanding yang tidak.Bahkan sekarang sistem manajemen pembakaran mobil bisa terhubung dengan sistem komunikasi nirkabel beserta dengan sistem transaksi kartu kredit. Pengendara mobil bisa langsung menghidupkan mobilnya melalui telepon seluler (ponsel) atau Personal Digital Assistant (PDA). Itu masih belum apa-apa. Para orang tua mengusulkan agar mereka bisa mengontrol kecepatan mobil dari luar, sehingga bisa mencegah anaknya melakukan kebut-kebutan di jalan raya. Illsley menyatakan semua teknologi ini sudah tersedia hanya masih belum bersifat komersial karena harus menjalani uji coba lebih lanjut. Saat ini Institute of Transport Studies (ITS) di University of Leeds tengah menjalani projek enam tahunnya untuk mengevaluasi kehebatan adaptasi sistem kecepatan mobil.Baru General Motors (GM) yang menggunakan kombinasi sistem pembakaran, sistem komunikasi nirkabel dan Global Positioning Global (GPS) pada sistem mobilnya yang dinamakan OnStar. (SH/merry magdalena)